Tentang Interaksi Obat dan Makanan

20:25:00

Assalamuallaikum, rekan-rekan...
Pernahkah kalian semua pergi ke dokter untuk berobat dan mendengar kalimat seperti berikut:
"Obatnya diminum sebelum makan ya."

atau

"Obatnya diminum setelah makan saja ya, pak/bu."

Para dokter/bagian farmasi/apoteker mengatakan hal tersebut pasti ada alasannya. Ini berkaitan dengan interkasi obat dengan makanan. Saya memang bukan Mahasiswa Farmasi, tetapi saya rasa, saya harus mengerti sedikit mengenai interaksi obat, terutama hubungannya dengan makanan. Oke, mari kita bahas mengenai hal ini.

Menurut Swestika Swandari dalam BBPK Makassar (diakses 2014), tipe interaksi antara obat dan makanan ada dua yaitu interaksi makanan terhadap obat dan interaksi obat terhadap makanan. Interaksi makanan dengan obat terjadi jika makanan berada bersama dengan obat dalam saluran pencernaan sehingga memberikan pengaruh terhadap bioavailabilitas, farmakokinetik, farmakodinamik, serta efikasi terapi obat yang digunakan. Keberadaan makanan mempengaruhi efikasi terapi karena kehadiran makanan dalam saluran cerna atau peredaran darah dapat meningkatkan atau menurunkan laju absorpsi dan metabolisme obat.

Sedangkan Interaksi obat terhadap makanan terjadi karena penggunaan obat berpengaruh secara  signifikan pada metabolisme dan bioavailabilitas makanan atau zat gizi dalam tubuh dan mengubah persepsi rasa. Perubahan absorpsi dan  metabolisme makanan menyebabkan perubahan pada status zat gizi seseorang seperti deplesi mineral, vitamin, atau gangguan berat badan. Zat gizi makanan diperlukan oleh sistem enzim untuk berfungsi secara normal. Sistem enzim yang bekerja baik akan membantu metabolisme obat berlangsung dengan baik pula. Yang dimaksud dengan Bioavailabilitas, menurut kamus kesehatan, adalah tingkat sejauh mana suatu obat atau zat lain diserap dan beredar dalam tubuh (Swandari, 2014).


A. EFEK MAKANAN TERHADAP OBAT
Kehadiran makanan dalam saluran usus, sebagai situs penyerapan utama, sangat mempengaruhi penyerapan obat. Makanan dapat meningkatkan atau menurunkan keasaman, sekresi pencernaan, dan motilitas usus. Efek tersebut secara langsung menentukan apakah obat akan mudah hancur, seberapa lama tinggal di usus, apakah obat akan menjadi kristal, apakah obat tidak akan diserap sama sekali, dan perubahan teknis lainnya (Stanfield dan Hui, 2010).

Diet mineral seperti zat besi, magnesium, kalsium, dan garam aluminium menunjukkan bagaimana bahan kimia makanan atau zat gizi dapat mempengaruhi penyerapan obat. Contohnya, mineral kimia dapat bergabung dengan tetrasiklin (antibiotik yang umum digunakan) untuk membentuk partikel padat kecil (endapan tidak larut). Konsumsi simultan mineral ini dan tetrasiklin menyebabkan efek obat kehilangan nilai terapeutik (penyembuhan), sehingga membutuhkan dosis besar untuk mengimbangi kerugian (Stanfield dan Hui, 2010).

Vitamin dapat dianggap obat jika digunakan untuk efek farmakologis. Sebagai contoh, jika seseorang memiliki infeksi kandung kemih dan dosis tinggi dari vitamin C yang diresepkan, vitamin C tidak digunakan untuk karakteristik sebagai vitamin melainkan sedang diresepkan untuk mengasamkan urin. Niasin, vitamin B, juga sama digunakan untuk menurunkan kolesterol darah (Stanfield dan Hui, 2010).

Pemberian obat-obatan dengan makanan adalah praktek umum untuk mengurangi efek samping gastrointestinal, tetapi praktik ini juga dapat mengakibatkan berkurangnya, tertundanya, atau berubahnya kerja obat. Menggunakan makanan sebagai ‘alat’ untuk  untuk menyamarkan rasa pahit (biasa dilakukan oleh anak) juga dapat mempengaruhi aksi obat jika makanan mengubah pH atau chelate obat. Obat-obatan oral dipengaruhi oleh makanan di saluran pencernaan, pH lambung dan usus kecil, dan motilitas (kontraksi atau gerakan) saluran pencernaan (Stanfield dan Hui, 2010).

Makanan berlemak tinggi dan makanan rendah akan memperlambat pengosongan lambung sebanyak dua jam. Aksi dari obat yang diberikan dengan atau setelah makan seperti itu akan sama diperlambat. Makanan tinggi protein meningkatkan aliran darah lambung dan meningkatkan penyerapan beberapa obat. Makanan tinggi glukosa menyebabkan sedikit penurunan sementara aliran darah ke saluran pencernaan, yang cenderung untuk mengurangi penyerapan obat (Stanfield dan Hui, 2010).

Interaksi makanan terhadap obat terdapat pada tiga fase yaitu fase farmasetika, fase farmakokinetika dan fase farmakodinamik. Berikut ini penjelasan dari ketiga fase tersebut, menurut Swestika Swandari dalam BBPK Makassar (diakses 2014).

1. Fase farmasetika (disolusi dan disintergasi obat)
Makanan menyebabkan perubahan pada pH saluran cerna yang berefek terhadap disolusi dan disintergasi obat. Tingkat keasaman juga akan berefek terhadap kelarutan dan efektivitas obat.

2. Fase farmakokinetika
Makanan memiliki pengaruh terpenting terhadap absorpsi karena saluran pencernaan merupakan organ terpenting pada absorpsi obat. Makanan dan kandungan zat gizi di dalam saluran cerna dapat  meningkatkan atau menurunkan absorpsi dan bioavailabilitas obat karena makanan menyebabkan perubahanan derajat ionisasi, solubilitas, dan pembentukkan chelat medical. Selain itu, laju pengosongan lambung dipengaruhi  oleh komposisi makanan. Serat dan makanan kaya lemak diketahui  menurunkan laju pengosongan lambung beberapa obat seperti hidralazin  diabsorbsi secara maksimal ketika  lambung dalam keadaan kosong. Hal ini berkaitan dengan pH lambung. Sedangkan obat lain seperti l-dopa,  Penicilin-G, dan digoksin akan terdegradasi dan menjadi tidak aktif pada pH lambung  rendah dalam waktu lama.

3. Fase farmakodinamika
Mekanisme kerja obat dapat berupa aktivitas antagonis atau agonis terhadap fungsi fisiologis dan metabolik normal tubuh.  Contohnya oksidasi untuk membunuh sel tumor  berlawanan ddengan vitamin V yang bersifat antioksidan, Metotreksat mempunyai struktur yang mirip dengan asam folat sehingga pada kondisi defisiensi folat Metotreksat bersifat kompetitif dengan  protein carier folat.


B. EFEK OBAT TERHADAP MAKANAN
Menurut Stanfield dan Hui (2010), obat-obatan tertentu menginduksi sistem enzim yang memerlukan kofaktor vitamin. Hal ini dapat meningkatkan kebutuhan vitamin. Beberapa obat bersaing dengan vitamin untuk suatu tindakan. Selain itu, beberapa obat mengurangi sintesis zat gizi endogen. Misalnya, antibiotik spektrum luas mengganggu sintesis vitamin K oleh mikroorganisme yang biasanya hadir dalam usus besar. INTINYA, obat dan vitamin akan bersaing untuk dapat diserap oleh tubuh.

Kontrasepsi oral dapat mengakibatkan kekurangan vitamin B6 sekitar 10%-30% dari pengguna pil. Tingginya insiden sakit kepala dan depresi di antara pasien tersebut kini ditelusuri kekurangan vitamin ini. Rupanya, penurunan partisipasi vitamin B6 dalam metabolisme kimia tubuh di otak (secara tidak langsung) dapat menyebabkan depresi dan sakit kepala (Stanfield dan Hui, 2010).

Berbagai upaya telah dilakukan untuk memperbaiki efek samping pil status gizi pasien. Termasuk vitamin dan mineral dalam pil telah disarankan. Pemeriksaan darah dan urin secara regular untuk tingkat vitamin dan mineral adalah alternatif lain. Bahkan aspirin umum dapat menyebabkan masalah gizi. Terapi salisilat kronis telah terbukti mengurangi penyerapan vitamin C dalam leukosit dan merusak kemampuan protein mengikat folat (Stanfield dan Hui, 2010).

Obat dapat meningkatkan atau menurunkan bioavailabilitas zat gizi makanan. Perubahan status zat gizi seseorang  obat mempengaruhi intake makanan, absorpsi, metabolisme, ekskresi dari zat gizi makanan.  Beberapa zat gizi yang dapat dipengaruhi obat antara lain  folat, piridoksin, Vitamin C, Vitamin D, Vitamin A, kalsium, dan seng. Obat seperti aspirin, babiturat, primidon, etinil estradiol, sikloserin, metotreksat berpengaruh terhadap metabolisme folat fenitoin  sehingga dapat menyebabkan defisiensi folat dan anemia megaloblastik. Hal yang patut diwaspadai adalah efek perubahan zat gizi akibat penggunaan  obat pada lansia, bayi, anak-anak, wanita hamil dan menyusui (Swandari, 2014).

Beberapa obat menyebabkan anoreksia atau mual muntah akibat rasa dan bau obat. Obat-obat yang mengubah persepsi rasa alopurinol, griseofulvin, amilocain, sulfasalazine, amfetamin, lidocain, nifedipin, diltiazem, ampoterisin, blitium, fenitoin, ctm, ampisilin, metil tiourasil , benzokain, kaptopril. Pada penggunaan obat yang dapat mengubah persepsi rasa perlu  dilakukan modifikasi tampilan makanan yang dikonsumsi pasien  dari segi warna dan rasa (Swandari, 2014).

Metilfenidat yang digunakan dalam terapi hiperaktif anak akan mempengaruhi sistem saraf perifer. Penggunaan jangka panjang obat ini dapat menghambat  pertumbuhan anak. Maka pada pasien yang menggunakan Metilfenidat diperlukan monitoring gizi (Swandari, 2014).


C. KETIDAKSESUAIAN OBAT DAN MAKANAN
Makanan dan minuman tertentu diketahui tidak sesuai dengan obat terapeutik. Reaksi yang tidak kompatibel terjadi sebagai akibat dari bahan-bahan aktif secara farmakologi dalam makanan, terutama etil alkohol dan berbagai amina. Bahan makanan ini bereaksi terutama dengan obat-obatan untuk mengobati penyakit jiwa (monoamine oxidase inhibitors) dan penyalahgunaan alkohol (disulfiram) (Stanfield dan Hui, 2010).

Tyramine (pemicu penyempit pembuluh darah) dapat bereaksi dengan prokarbazin (obat kanker) untuk menciptakan sebuah "krisis hipertensi" pada pasien. Reaksi dapat terjadi dalam waktu satu-setengah sampai satu jam setelah mengkonsumsi zat yang tidak kompatibel. Contoh makanan mengandung tiramin: keju, ekstrak yeast, daging asap, bir, alkohol, alpukat, anggur merah, minuman berkafein, yogurt, coklat, kecap (Stanfield dan Hui, 2010).

Alkohol, minuman panas, dan antasida tidak boleh diberikan dengan tablet atau kapsul secara berkelanjutan karena zat ini dapat menyebabkan erosi dini lapisan pH sensitive pada obat. Tablet salut enterik sebaiknya tidak diberikan dengan makanan alkali atau antasida (Stanfield dan Hui, 2010).

Banyak obat, terutama depresan sistem saraf pusat, tidak boleh diminum karena hubungannya dengan alkohol karena efek depresan kumulatif. Obat lain yang dikombinasikan dengan asupan alkohol menghasilkan efek yang mirip dengan disulfiram (Antabuse), dengan onset akut wajah kemerahan, dyspnea, mual dan muntah, palpitasi, sakit kepala, dan hipotensi. Alkohol dikonsumsi dengan beberapa obat dapat meningkatkan potensi iritasi lambung dan perdarahan (Stanfield dan Hui, 2010).

Tingkat keparahan reaksi tergantung pada dosis obat, jumlah makanan yang dicerna, kerentanan pasien, dan interval antara obat dan konsumsi pangan. Tingkat keparahan reaksi juga dapat dipengaruhi oleh kondisi makanan (Stanfield dan Hui, 2010).

D. INTERVENSI KLINIK

Stanfield dan Hui (2010) menjelaskan beberapa intervensi klinik dari interaksi obat dan makanan, sebagai berikut:

1. Antikonvulsan digunakan untuk mengobati kondisi seperti kejang. Obat jenis ini mengganggu penyerapan zat gizi dalam makanan, maka tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan makanan atau saat menyusui, terutama pada anak-anak.

2. Agen antijamur digunakan untuk mengobati infeksi jamur. Obat jenis ini meningkatkan ekskresi ginjal, terutama elektrolit, maka suplementasi dengan elektrolit (misalnya, mineral) biasanya diperlukan.

3. Obat Antiaritmia digunakan untuk mengobati aritmia atau denyut jantung yang abnormal. Obat jenis ini dapat menyebabkan tekanan atau ketidaknyamanan usus, maka obat harus dikonsumsi dengan sejumlah kecil makanan.

4. Kortikosteroid digunakan untuk mengobati berbagai gangguan klinis termasuk radang sendi, nyeri, dan bengkak. Obat jenis ini dapat meningkatkan pemecahan protein otot, maka asupan protein dan output nitrogen urin mungkin perlu dipantau.

Sumber:
-Ashraf, M. and  Raymon L. 2004, Handbook of Drug Interactions: A Clinical and Forensic Guide, 2nd Edition,Humana Press, Totowa New Jersey, 379-394

-Brunton L., et al, 2008, Goodman and Gilman's The Pharmacological Basis of Therapeutics, Tenth Edition, McGraw-Hill Professional, Bethesda NY

-Stanfield, Peggy S. and Y.H. Hui. 2010. Nutrition and  Diet Therapy: Self-Instructional Approaches. Sudbury: Jones and Bartlett Publishers.

-Swandari, Swestika."Interaksi Obat dan Makanan". http://bbpkmakassar.or.id/index.php/Umum/Info-Kesehatan/Interaksi-Obat-dan-Makanan-Alasan-Pengaturan-Cara-dan-Waktu-Penggunaan-Obat.phd (diakses 27 Agustus 2014)

-http://ilmufarmasis.files.wordpress.com/2011/03/io-obat-makanan-jamu.ppt.

You Might Also Like

0 Leave comment