DIABETES MELLITUS

21:48:00

Assalamuallaikum wr. wb. Kali ini saya ingin membagi pengetahuan saya mengenai penyakit diabetes melitus. Diabetes Mellitus adalah penyakit degeneratif yang relatif umum diderita oleh orang Indonesia yang telah berusia lanjut, walau pada kenyataanya ada pula anak muda, bahkan anak kecil pun ada yang sudah menderita penyakit ini. Yuk mari kita simak pembahasannya!

Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya (ADA, 2010 dalam PERKENI 2011). Diabetes Mellitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai dengan ketiadaan jumlah insulin yang cukup dalam aliran darah atau terjadinya penurunan relatif insensitivitas sel pada insulin (Corwin, 2009).


Berikut adalah klasifikasi Diabetes Mellitus Berdasarkan Etiologinya (ADA, 2003 dalam Depkes RI, 2005):

 

Diabetes yang berkaitan dengan kurangnya insulin dalam tubuh adalah diabetes melitus tipe I. Diabetes melitus tipe I dapat terjadi biasanya karena kecenderungan genetik individu. DM tipe 1 diperkirakan terjadi akibat dekstruksi otoimun sel-sel beta pulau Langerhans. Infeksi virus penyakit, obat, atau toksik diduga dapat berpengaruh. Karena proses penyakit diabetes tipe 1 terjadi dalam beberapa tahun, sering kali tidak ada faktor pencetus yang pasti. pada saat DM tipe 1 ditegakkan, ditemukan antibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans pada sebagian besar pasien.

Jenis diabetes lain yang umum terjadi karena pengaruh gaya hidup adalah diabetes tipe 2. Penyakit ini terjadi karena hiperglikemia yang disebabkan insensitivitas seluler terhadap insulin (Corwin, 2009). Bahasa gampangnya, jumlah insulin sebenarnya cukup atau memadai dalam darah, namun insulin menjadi kurang sensitif dalam penyerapan glukosa, sehingga hanya sedikit glukosa yang terserap jika dibandingkan dengan jumlah insulin yang ada. Jadi, awal patofisiologis DM Tipe 2 bukan disebabkan oleh kurangnya sekresi insulin, tetapi karena sel-sel sasaran insulin gagal atau tak mampu merespon insulin secara normal. Keadaan ini lazim disebut sebagai “Resistensi Insulin” (Depkes RI, 2005).

Pada penderita DM Tipe 2 dapat juga timbul gangguan sekresi insulin dan produksi glukosa hepatik yang berlebihan (Depkes RI, 2005). Corwin (2009) juga mengatakan bahwa DM tipe 2 juga dapat terjadi karena defek sekresi insulin ketidakmampuan pankreas dalam menghasilkan insulin, sehingga kadar insulin dalam darah menjadi rendah dan kadar glukosa plasma meningkat. Namun demikian, tidak terjadi pengrusakan sel-sel βLangerhans secara otoimun sebagaimana yang terjadi pada DM Tipe 1. Dengan demikian defisiensi fungsi insulin pada penderita DM Tipe 2 hanya bersifat relatif, tidak absolut. Oleh sebab itu dalam penanganannya umumnya tidak memerlukan terapi pemberian insulin. Sel-sel βkelenjar pankreas mensekresi insulin dalam dua fase. Fase pertama sekresi insulin terjadi segera setelah stimulus atau rangsangan  glukosa yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah, sedangkan sekresi fase kedua terjadi sekitar 20 menit sesudahnya. Pada awal perkembangan DM Tipe 2, sel-sel βmenunjukkan gangguan pada sekresi insulin fase pertama, artinya sekresi insulin gagal mengkompensasi resistensi insulin Apabila tidak ditangani dengan baik, pada perkembangan penyakit selanjutnya penderita DM Tipe 2 akan mengalami kerusakan sel-sel β pankreas yang terjadi secara progresif, yang seringkali akan mengakibatkan defisiensi insulin, sehingga akhirnya penderita memerlukan insulin eksogen. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa pada penderita DM Tipe 2 umumnya ditemukan kedua faktor tersebut, yaitu resistensi insulin dan defisiensi insulin (Depkes RI, 2005).

DM tipe 2 memang lebih umum terjadi di masyarakat dan lebih mudah diketahui penyebabnya. DM tipe 2 dapat berkaitan dengan kegemukan dan kecenderungan pengaruh genetik. Peran hormon leptin berpengaruh pada kegemukan karena hormon leptin adalah hormon yang bertugas mengatur 'rasa kenyang'. Menurut pengetahuan saya dari hasil diskusi dan membaca, kenapa orang obesitas berisiko adalah karena mereka makan lebih banyak dari mereka yang tidak obesitas. Makanan yang dapat menyebabkan obesitas jika terlalu sering dimakan adalah makanan tinggi kalori yang biasanya berasal dari sumber karbohidrat dan protein hewani. Hal ini dapat memicu kerja pankreas (untuk menghasilkan insulin) dan insulin itu harus bekerja keras untuk mengatur gula darah dalam tubuh. Jika hal ini sering terjadi, maka akan berpengaruh pada sensitivitas atau kepekaan dari insulin untuk mengatur gula darah (resistensi insulin).

Namun, harus diingat bahwa bukan berarti orang yang tidak gemuk aman-aman saja. Mereka yang ectomorph (orang-orang yang susah gemuk) biasanya juga suka makan banyak atau bahkan (mungkin) dapat makan lebih banyak dari mereka yang aman karena mereka merasa aman dengan berat badan mereka. Anak muda memang dapat mengalami diabetes juga, namun orang yang sudah tua dapat lebih rentan, kenapa? karena sel-sel tubuh, terutama sel otot dan sel adiposa, memperlihatkan resistensi terhadap insulin yang bersirkulasi dalam darah. Alhasil, glukosa tidak dapat dengan baik diserap oleh sel. Hal ini direspon oleh hati (karena sel kekurangan glukosa) untuk melakukan glukoneogesis, yang selanjutnya semakin meningkatkan kadar glukosa darah serta menstimulasi penguraian trigliserida, protein dan glikogen untuk menghasilkan sumber bahan bakar alternatif, sehingga meningkatkan zat-zat ini dalam darah (Corwin, 2009).

Berikut ini adalah beberapa gambaran klinis yang umumnya terjadi pada penderita diabetes (Corwin, 2009):
• Poliuria: sering buang air kecil
• Polidipsia: sering merasa haus
• Polifagia: sering lapar
• Rasa lelah dan kelemahan otot
• Diabetes tipe 1 mungkin disertai mual dan muntah yang cukup parah

Berikut adalah faktor risiko Diabetes Mellitus, terutama pada Diabetes Mellitus Tipe 2 (Depkes RI, 2005):



Riwayat
·         Diabetes dalam keluarga
·         Diabetes Gestasional (Diabetes pada Kehamilan)
·         Melahirkan bayi dengan berat badan >4 kg
·         Kista ovarium (Polycystic ovary syndrome)
·         IFG (Impaired fasting Glucose) atau IGT (Impaired
·         glucose tolerance)
Obesitas
>120% berat badan ideal
Umur
A.    20-59 tahun : 8,7%
B.     > 65 tahun : 18%
Hipertensi
>140/90mmHg
Hiperlipidemia
·         Kadar HDL rendah <35mg dl="" span="">
·         Kadar lipid darah tinggi >250mg/dl
Faktor-faktor lain
·         Kurang olah raga
·         Pola makan rendah serat
·         Etnik/Ras


Menurut Guyton (2006), pada penyandang diabetes, ketika glukosa darah tidak terkontrol dalam jangka waktu lama, pembuluh darah pada berbagai jaringan mengalami abnormalitas fungsi dan mengalami perubahan struktur sebagai akibat dari menurunnya aliran darah ke jaringan. Hal ini akan meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung, stroke, gagal ginjal, retinopati dan kebutaan, dan gangren pada kaki dan tungkai. Ada juga komplikasi yang disebut sebagai neuropati diabetik.

Bagi mereka yang sudah mengalami Diabetes, terdapat cara penanganan yang harus dilakukan jika ingin agar Diabetes dapat terkendali, yaitu menerapkan Lima (5) Pilar Pengendalian Diabetes Mellitus (edukasi, perencanaan makan, latihan jasmani, minum obat, kontrol gula darah teratur). Yang dimaksud dengan edukasi adalah selalu rutin berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.

Pengaturan diet yang baik merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan diabetes (Depkes RI, 2005). Penatalaksanaan pengaturan diet diabetes mellitus dapat menggunakan prinsip 3J, yaitu perhatikan jumlah makanan, jenis makanan, dan jadwal makan.

a) Jumlah Makanan
Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan lemak, sesuai dengan kecukupan gizi baik sebagai berikut (Depkes RI, 2005):
• Karbohidrat : 60-70%
• Protein  : 10-15%
• Lemak  : 20-25%

b) Jenis Makanan
Selain jumlah kalori, pilihan jenis bahan makanan juga sebaiknya diperhatikan. Masukan kolesterol tetap diperlukan, namun jangan melebihi 300 mg per hari. Sumber lemak diupayakan berasal dari bahan nabati, yang mengandung lebih banyak asam lemak tak jenuh dibandingkan asam lemak jenuh (Depkes RI, 2005). Sebagai sumber makanan sebaiknya/dianjurkan diperoleh dari beras, ubi, singkong, kentang, tepung terigu, tepung singkong, ikan, udang, ayam (terutama dada dan tanpa kulit), daging tanpa lemak, telur, tahu dan tempe karena tidak banyak mengandung lemak, susu dan snack khusus diabetes, menggunakan pemanis alternatif, caisim, kangkung, wortel, sawi, terong, jambu, kedondong, melon, semangka, nangka (sebagai buah bukan sebagai sayur disantan), pir, salak, sawo. Hindari/Batasi konsumsi cake, biskuit, krekers, makanan awetan (ikan asin, sarden, dendeng, kornet sapi), kol, bayam, bit, kembang kol, rebung, anggur, belimbing, duku, minuman bersoda, gula pasir, madu. (Depkes RI, 2005; Almatsier, 2006; dan Konsensus Diabetes, 2011). Untuk buah-buahan, seperti pepaya, pisang, semangka, mangga, dan jambu biji ada baiknya dibatasi. Boleh dikonsumsi tetapi dibatasi. Konsultasikanlah dengan dokter atau ahli gizi Anda.

Ada kontroversi di masyarakat mengenai nasi putih. Banyak yang bilang makan nasi putih tidak boleh sama sekali. Padahal, pendapat itu salah. Yang benar adalah nasi putih cukup DIBATASI saja, yaitu sebanyak 3 porsi sehari (setara dengan 300 gram). Memang, yang paling tepat adalah makan nasi merah, tetapi sangat sedikit mereka yang suka mengonsumsi nasi merah. Saya ingin memberikan tips bagi Anda yang mungkin kurang suka makan nasi merah. Agar mendapatkan tekstur yang enak seperti nasi putih, campurlah nasi merah dan nasi putih dalam pemasakannya dengan rasio 1:1 sebagai permulaan. Secara bertahap naikkan perbandingan nasi merah dan nasi putih menjadi 2:1. Dengan begitu, Anda akan dapat mendapatkan tekstur nasi merah yang tidak keras. Memang tidak akan selembut nasi putih pada umumnya, tetapi it's better than you cook 100% nasi merah and it's better for your health too :) give it a try!





Ilustrasi Seporsi Nasi Putih

Keunggulan dari nasi merah adalah jumlah serat-nya yang lebih unggul dari nasi putih. Masukan serat sangat penting bagi penderita diabetes, diusahakan paling tidak 25 g per hari. Selain akan menghambat penyerapan lemak, makanan berserat yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga dapat membantu mengatasi rasa lapar yang kerap dirasakan penderita DM tanpa risiko masukan kalori yang berlebih. Di samping itu, makanan sumber serat, seperti sayur dan buah-buahan segar umumnya kaya akan vitamin dan mineral (Depkes RI, 2005).




Selain serat, ternyata ada zat gizi lain yang juga berperan dalam mengontrol gula darah pada penderita diabetes, yaitu mineral KROMIUM. Kromium adalah mineral mikro yang penting untuk mengatasi resistensi insulin. Meskipun dibutuhkan dalam jumlah sedikit, keberadaan kromium bagi penderita diabetes tipe 2 sangat penting untuk mengatasi resistensi insulin. Kecukupan kromium sangat berarti untuk menurunkan kadar gula darah. Jika tubuh kekurangan kromium, maka pengaturan gula darah oleh insulin dapat terganggu (Lingga, 2012). The US National Academy of Sciences telah membentuk rekomendasi kecukupan harian untuk kromium, yaitu sebanyak 50-200 mg/hari untuk pria dan wanita dewasa (RDA, 2014). Sedangkan, menurut AKG 2013, kecukupan kromium lelaki dewasa (19-49 tahun) adalah sebesar 35 mg/hari, usia >50 tahun adalah sebesar 30 mg/hari. Kecukupan kromium wanita dewasa (19-49 tahun) adalah sebesar 25 mg/hari, usia >50 tahun adalah sebesar 20 mg/hari.

Manfaat lain dari kromium terkait dengan perannya dalam menjaga keseimbangan kolesterol. Beberapa studi juga menyebutkan bahwa kromium penting dalam proses pengikisan lemak tubuh. Karena itu, kecukupan kromium sangat berarti bagi mereka yang mengalami obesitas (Lingga, 2012). Lalu, dari makanan apa kita dapat memperoleh kromium? Tentu saya sayur dan buah! Sehingga, jelas sudah mengapa makan sayur dan buah adalah penting bagi para penderita diabetes. Kromium juga terdapat pada kuning telur, produk gandum utuh, kopi, kacang hijau, kacang-kacangan, brokoli, daging, dll. Pernah mendengar kata Chromium Picolinate? Yap, itu adalah salah satu suplementasi kromium. Biasanya terdapat pada produk-produk khusus diabetes. Chromium juga hadir dalam banyak suplemen multivitamin / mineral, dan ada juga picolinate kromium tertentu (CRP) suplemen yang mengandung 200-600 mg kromium per tablet (Foodstandards.gov.uk).

c) Jadwal Makan
Penyandang diabetes mellitus harus makan teratur sesuai jadwal, yaitu 3 kali makan utama, 3 kali makan selingan dengan interval waktu 3 jam. Ini dimaksudkan agar terjadi perubahan pada kandungan glukosa darah penderita DM, sehingga diharapkan dengan perbandingan jumlah makanan dan jadwal yang tepat maka kadar glukosa darah akan tetap stabil dan penyandang DM tidak merasa lemas akibat kekurangan zat gizi.

 Biasakan selalu mengecek gula darah Anda. Berikut adalah Indikator Gula Darah Normal:
-Gula Darah Puasa: Kurang dari sama dengan 100 mg/dL.
-Gula Darah 2 Jam setelah makan: Kurang dari 140 mg/dL untuk yang lebih muda dari 50 tahun, kurang dari 150 mg/dL untuk usia 50-60 tahun, kurang dari 160 mg/dL untuk usia 60 tahun atau lebih.
-Gula darah (dilihat random): bervariasi berkaitan pada kapan dan berapa banyak saat makan terakhir. Umumnya 80-120 mg/dL. Sebelum makan atau bangun tidur 100-140 mg/dL.

SUMBER REFERENSI:
-Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
-Healthwise Staff. 2011. "Blood Glucose". www.webmd.com/diabetes/blood-glucose
-American Diabetes Association: Clinical Practice Recommendations. Diabetes Care 2001; 24(s1).
-American Diabetes Association. Diagnosis and classification of diabetes mellitus. Diabetes Care. 2004;27(Suppl 1):S5-S10.

-Departemen Kesehatan RI. 2005. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Diabetes Mellitus. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik; Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. 
-Guyton, A.C. & Hall, J.E., 2006. Textbook of Medical Physiology. 11th ed. Philadelphia, PA, USA: Elsevier Saunders.

-PERKENI. 2011. KONSENSUS DM Tipe 2 Indonesia.
-Lingga, Lanny. 2012. Bebas Diabetes Tipe-2 Tanpa Obat. Jakarta: Agromedia Pustaka.

- Almatsier, Sunita. 2006. Penuntun Diet. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 
-RDA recommendations [Internet]. Available from http://lifestyler.com/lifestyler/rdachart.htm. Accessed 29 January 2004 
-Expert Group on Vitamins and Minerals: Review of chromium [Internet], 2002. Available from www.foodstandards.gov.uk/multimedia/pdfs/reviewofchrome.pdf. Accessed 3 February 2004
-Cefalu, William T. & Frank B. Hu. 2004. "Role of Chromium in Human Health and in Diabetes". http://care.diabetesjournals.org/content/27/11/2741.long (diakses 24 Oktober 2014)


You Might Also Like

0 Leave comment